Definisi Ketika Manusia Tak Lagi Sepenuhnya Biologis

Posthuman: Definisi Ketika Manusia Tak Lagi Sepenuhnya Biologis<div class="separator" style="clear: both;"><a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFhauz5UHCX_nx_sqIpduvimj5wR9fYHFDEOBtSRsJmAT6dHPmF8BxiP4ayzCdNAXvgNMLR-WqGYPVyLvgYhKJ3MVhIHAZDir_HCpP-j4LIWMJij94C1WU9tiOgGnI_6gB5DA-Ngu0knpqlt2-Ahcph7XTgpQdF_q48qQe8w33sezJ6msVU_k3lmzTxpY/s1440/IMG-20260912-WA8181.jpg" style="display: block; padding: 1em 0; text-align: center; "><img alt="" border="0" width="320" data-original-height="816" data-original-width="1440" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFhauz5UHCX_nx_sqIpduvimj5wR9fYHFDEOBtSRsJmAT6dHPmF8BxiP4ayzCdNAXvgNMLR-WqGYPVyLvgYhKJ3MVhIHAZDir_HCpP-j4LIWMJij94C1WU9tiOgGnI_6gB5DA-Ngu0knpqlt2-Ahcph7XTgpQdF_q48qQe8w33sezJ6msVU_k3lmzTxpY/s320/IMG-20260912-WA8181.jpg"/></a></div>
KUPAS TEKNOLOGI • ESSAY

Posthuman: Ketika Definisi Manusia Tak Lagi Sepenuhnya Biologis



BACA JUGA :

➡️ Smart Glasses: Gadget yang Bisa Menggantikan Smartphone?

➡️
Deepfake di 2026: Ketika Foto dan Video Semakin Sulit Dipercaya

Jawaban singkat: Posthuman merujuk pada kondisi ketika batas antara manusia dan teknologi tidak lagi dapat ditarik secara tegas. Konsep ini menuntut kita melepaskan asumsi bahwa manusia adalah organisme biologis murni, dan mulai memandangnya sebagai simpul dalam jaringan organik-teknologi-lingkungan yang terus berubah. Bedanya dengan transhumanisme: transhumanisme ingin memperkuat manusia dengan teknologi, sedangkan posthumanisme membongkar kategori "manusia" itu sendiri.
Header Posthuman
Pendahuluan: Mengapa Batas Manusia Mulai Kabur? Selama ribuan tahun, definisi manusia tampak jelas: makhluk biologis dengan kesadaran, rasionalitas, dan tubuh organik. Namun abad ke-21 menghadirkan tantangan terhadap asumsi itu. Antarmuka otak-komputer (BCI) bukan lagi fiksi ilmiah. Pada Januari 2026, University College London Hospitals (UCLH) mengumumkan bahwa tujuh pasien lumpuh telah mengikuti uji coba Neuralink GB-PRIME, menggunakan implan kortikal untuk mengendalikan komputer dan ponsel dengan pikiran. Salah satu peserta, Sebastian Gomez, menyebut teknologi itu memberinya "harapan baru." Ketika pikiran dapat langsung menggerakkan perangkat eksternal, dan ketika teknologi menjadi perpanjangan fungsi tubuh alih-alih alat di luar tubuh, pertanyaan "apa yang membuat sesuatu disebut manusia" berubah dari spekulasi filosofis menjadi persoalan klinis dan etis yang nyata. Apa Perbedaan Inti Antara Transhumanisme dan Posthumanisme? Perbedaan keduanya sering disalahpahami sebagai sinonim. Padahal keduanya berangkat dari asumsi yang berbeda tentang apa itu "manusia." Tabel Perbandingan: Transhumanisme vs Posthumanisme
AspekTranshumanismePosthumanisme
Konsep UtamaPeningkatan (enhancement) kapasitas manusia melalui teknologiDekonstruksi kategori "manusia" sebagai entitas tetap
Fokus UtamaMemperpanjang usia, meningkatkan kognisi, memperkuat fisikRelasi manusia–teknologi–hewan–lingkungan sebagai jaringan
Pandangan Terhadap ManusiaManusia sebagai pusat proyek; teknologi melayani manusiaManusia sebagai simpul dalam jaringan; bukan pusat, bukan esensi
Sikap Terhadap Batas BiologisBatas biologis adalah hambatan yang harus dilampauiBatas biologis adalah konstruksi yang perlu dibongkar
Tokoh KunciNick Bostrom, Ray Kurzweil, Max MoreN. Katherine Hayles, Donna Haraway, Robert Pepperell
Posisi EtisBerpusat pada manusia (human-centered)Non-antroposentris; mengkritik eksceptionalisme manusia
Kritik UtamaKurang refleksi kritis; gagal melihat keterjalinan manusia dengan alamDianggap terlalu abstrak; sulit diterjemahkan ke kebijakan praktis
Transhumanisme memandang teknologi sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia. Menurut The Transhumanist FAQ yang disusun Nick Bostrom (World Transhumanist Association, 2003), transhumanis mengejar tujuan seperti memperpanjang usia sehat dan meningkatkan kapasitas kognitif serta fisik. Manusia tetap menjadi pusat proyek. Posthumanisme lebih radikal. Analisis yang diterbitkan Taylor & Francis (2024) menjelaskan bahwa posthumanisme kritis — sejalan dengan "nonhuman turn" — berupaya mendesentralisasi subjek manusia dalam tradisi eksceptionalisme Barat. Penelitian di Zenodo (2025) merumuskan: "Transhumanisme melihat era teknologi sebagai alat dalam proses perkembangan manusia; posthumanisme tidak hanya menjadikannya alat, tetapi berupaya mengintegrasikan manusia sepenuhnya dengan era teknologi." Dari Mana Akar Teoretis Posthumanisme Berasal? Tiga karya fondasional membentuk kerangka posthumanisme kontemporer. 1. N. Katherine Hayles, How We Became Posthuman (1999) Diterbitkan University of Chicago Press, buku ini meraih penghargaan René Wellek dari American Comparative Literature Association. Argumen utamanya: dalam era informasi, informasi kehilangan tubuhnya — dikonseptualisasikan sebagai entitas yang terpisah dari medium materialnya. Hayles menelusuri tiga kisah yang saling terkait: pemisahan informasi dari tubuh, konstruksi budaya-teknologis cyborg, dan pembongkaran "subjek" humanis liberal dalam wacana sibernetika. 2. Donna Haraway, "A Cyborg Manifesto" (1985) Awalnya diterbitkan di Socialist Review edisi 80. Manifesto ini menantang batas antara manusia dan mesin, serta antara gender, kelas, ras, etnis, orientasi seksual, dan geografi. Cyborg Haraway bukan fantasi augmentasi teknis, melainkan alat politik-epistemologis untuk meruntuhkan dikotomi. 3. Robert Pepperell, The Posthuman Condition (1995) Pepperell mengajukan tiga proposisi: (1) posthumanisme bukan "akhir manusia," melainkan akhir pandangan alam yang antroposentris; (2) posthumanisme menyangkut evolusi kehidupan, yang tidak terbatas pada genetika tetapi mencakup perangkat budaya dan teknologi; (3) posthumanisme menyangkut cara kita hidup dan mengelola lingkungan serta hewan, sehingga juga merupakan persoalan etika dan keadilan. Bagaimana Posthuman Terwujud dalam Dimensi Empiris? Dimensi neural-kognitif. Implan Neuralink N1 menggunakan lebih dari 1.000 elektroda yang tersebar pada benang lebih tipis dari rambut manusia, ditempatkan oleh robot R1 dengan presisi beberapa mikron dari neuron target. Ini bukan "penguatan" dalam arti biasa, melainkan penyambungan langsung antara sinyal saraf dan instruksi mesin. Ketika pasien "berpikir" menggerakkan tangan dan teknologi mengeksekusinya, batas antara kehendak dan operasi mesin menjadi tidak dapat dibedakan secara operasional. Dimensi biologi-teknologi. Pepperell menyoroti tren bahwa biologi dan teknologi semakin sulit dibedakan. Namun, klaim populer bahwa "hanya 43% sel dalam tubuh kita yang manusiawi" adalah penyederhanaan yang menyesatkan. Studi Sender, Fuchs, dan Milo (2016) di PLOS Biology merevisi estimasi jumlah sel dan menyimpulkan bahwa rasio bakteri terhadap sel manusia mendekati 1:1 — sekitar 38 triliun bakteri dan 30 triliun sel manusia pada manusia referensi 70 kg. Perlu ditegaskan: jumlah sel bukan ukuran identitas biologis manusia. Mikrobioma usus adalah komunitas simbiotik yang hidup bersama tubuh, bukan komponen yang "menggantikan" kemanusiaan seseorang. Fakta bahwa kita hidup bersama triliunan mikroba memang mengguncang gagasan "manusia sebagai entitas biologis murni dan terisolasi," tetapi bukan dengan cara aritmetika persentase sel. Dimensi etis-politik. Francis Fukuyama dalam Our Posthuman Future (2002) memperingatkan dari posisi konservatif tentang ancaman revolusi bioteknologi terhadap "hakikat manusia" dan "martabat manusia." Daftar isinya mencakup bab tentang "hak asasi manusia," "hakikat manusia," "martabat manusia," dan "kontrol politik atas bioteknologi" — menandakan bahwa isu posthuman telah masuk ke agenda inti filsafat politik. Bagaimana Konteks Indonesia Membaca Isu Posthuman? Indonesia telah mulai membangun kerangka tata kelola AI. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tengah menyusun peraturan menteri tentang kewajiban pelabelan konten yang dihasilkan AI generatif, dengan pendekatan klasifikasi risiko bertingkat — dari risiko yang tidak dapat diterima (seperti social scoring) hingga aplikasi berisiko rendah (seperti chatbot layanan publik). Prinsip etika AI yang diadopsi meliputi inklusivitas, kemanusiaan, keamanan, transparansi, dan akuntabilitas. Yang menarik, sejumlah peneliti menggunakan perspektif posthumanisme untuk membaca relasi manusia, alam, leluhur, dan ruang hidup dalam masyarakat Mentawai. Satu studi di repositori Universitas Sanata Dharma mencatat bahwa dalam kepercayaan Arat Sabalungan, roh dianggap setara dengan manusia; Sikerei diyakini mampu berdialog dengan roh dan tumbuhan; Uma diperlakukan seperti ibu; Tuddukat dihormati seperti organ tubuh. Penting untuk dicatat: ini adalah pembacaan analitis menggunakan kerangka modern, bukan label identitas budaya. Arat Sabalungan memiliki sejarah, konteks, dan sistem maknanya sendiri — jauh sebelum posthumanisme menjadi istilah akademik. Menyebut "Mentawai adalah masyarakat posthuman" berisiko memaksakan kategori eksternal ke atas kosmologi lokal yang otonom. Yang lebih akurat: posthumanisme dapat menjadi salah satu lensa untuk memahami bagaimana Arat Sabalungan mengatur relasi non-hierarkis antara manusia dan entitas lain.


BACA JUGA :

➡️ Multimodal AI: Saat Kecerdasan Buatan Mulai Melihat, Mendengar, dan Memahami Dunia Nyata

➡️ Masa Depan DATA CENTER INDONESIA: Kenapa Jakarta & Batam Jadi Rebutan Raksasa AI?

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Apakah manusia yang memakai pacu jantung termasuk posthuman?
Tidak secara otomatis. Pacu jantung adalah perangkat medis yang mempertahankan fungsi vital, bukan meningkatkan kapasitas melampaui batas biologis manusia. Dalam kerangka transhumanisme, pacu jantung adalah alat penyembuh; dalam kerangka posthumanisme, ia belum cukup mengaburkan batas definisional kemanusiaan. Posthuman lebih tepat menggambarkan kondisi ketika teknologi menjadi bagian integral dari identitas dan agensi seseorang — bukan sekadar penopang fungsi tubuh.
Apa beda utama cyborg dan posthuman?
Cyborg adalah figur hibrida antara organisme dan mesin — bisa berupa manusia dengan implan, prostetik, atau augmentasi lain. Posthuman adalah kondisi atau kerangka berpikir tentang apa yang terjadi ketika kategori "manusia" tidak lagi memadai untuk menjelaskan keberadaan kita. Dengan kata lain: cyborg adalah wujud, posthuman adalah kondisi dan cara memahaminya. Seorang cyborg belum tentu posthuman secara konseptual; sebaliknya, posthumanisme bisa dibahas tanpa merujuk pada cyborg tertentu.
Apakah posthumanisme mengancam nilai kemanusiaan?
Tidak harus. Posthumanisme justru mengundang refleksi ulang tentang apa yang benar-benar bernilai dari pengalaman manusia — seperti kapasitas moral dan kesadaran akan finitud. Tantangannya adalah memastikan bahwa pergeseran ini tidak memperlebar ketimpangan akses teknologi atau mengikis otonomi individu.
Apakah Indonesia sudah mengatur teknologi yang berpotensi mengarah ke posthuman?
Belum secara eksplisit. Indonesia sedang menyusun regulasi AI melalui Kemkomdigi, termasuk kewajiban pelabelan konten AI generatif dan Rancangan Peraturan Presiden tentang Etika AI dengan klasifikasi risiko bertingkat. Regulasi ini menjadi fondasi penting, meskipun belum secara khusus membahas isu posthuman seperti augmentasi saraf atau integrasi manusia-mesin.
Apa itu transhumanisme dan apa tujuannya?
Transhumanisme adalah gerakan intelektual yang mendukung penggunaan teknologi untuk meningkatkan kapasitas manusia — memperpanjang usia sehat, meningkatkan kognisi, dan memperkuat kemampuan fisik. Tujuannya bukan menggantikan manusia, melainkan memperluas batas biologisnya. Tokoh utamanya antara lain Nick Bostrom dan Ray Kurzweil.
Mengapa posthumanisme menolak antroposentrisme?
Karena antroposentrisme menempatkan manusia sebagai pusat dan ukuran segala hal, mengabaikan relasi manusia dengan entitas non-manusia (hewan, tumbuhan, mesin, ekosistem). Posthumanisme berargumen bahwa manusia selalu terbentuk melalui relasi dengan yang non-manusia, sehingga tidak ada "esensi manusia" yang berdiri sendiri.
Kesimpulan: Manusia sebagai Proyek yang Belum Selesai Posthumanisme bukan ramalan tentang akhir manusia, melainkan undangan untuk memikirkan ulang apa yang membuat kita manusia. Ketika definisi biologis tidak lagi memadai — ketika kita hidup bersama triliunan mikroba, ketika pikiran dapat langsung menggerakkan mesin, ketika batas antara organik dan teknologi terus mengabur dalam praktik klinis dan kehidupan sehari-hari — kita membutuhkan sumber konseptual baru untuk memahami diri sendiri. Contoh pembacaan atas Arat Sabalungan menunjukkan satu kemungkinan: etika posthuman tidak harus jatuh ke utopia teknologi atau konservatisme biologis. Roh yang setara dengan manusia, rumah yang diperlakukan seperti ibu, tumbuhan sebagai mitra dialog — ini adalah templat etika relasional yang mungkin lebih dekat dengan realitas sosial Indonesia daripada teori-teori Barat. Pertanyaan akhirnya bukan "apakah kita sedang menjadi posthuman," melainkan "dengan kerangka etika apa kita akan mengelola peralihan ini."
Sumber yang saya sebutkan (silakan verifikasi): Hayles, N. Katherine. How We Became Posthuman: Virtual Bodies in Cybernetics, Literature, and Informatics. University of Chicago Press, 1999. Haraway, Donna. "A Cyborg Manifesto." Socialist Review, no. 80, 1985. Pepperell, Robert. The Posthuman Condition: Consciousness Beyond the Brain. Intellect Books, 1995. Fukuyama, Francis. Our Posthuman Future. Farrar, Straus and Giroux, 2002. Bostrom, Nick. The Transhumanist FAQ, v2.1. World Transhumanist Association, 2003. Hollinger, Veronica. "Post/trans/human." Dalam The New Routledge Companion to Science Fiction, Taylor & Francis, 2024. "An Evaluation of Understanding of Human in Transhumanist and Post-Humanist Approaches." Zenodo, 2025. Sender, R., Fuchs, S., & Milo, R. "Revised Estimates for the Number of Human and Bacteria Cells in the Body." PLOS Biology, 2016. UCLH. "Seven GB-PRIME patients now participating in Neuralink trial." Januari 2026. "Posthumanisme Masyarakat Mentawai." Repositori Universitas Sanata Dharma.
Update by
KUPAS TEKNOLOGI
Yogyakarta - Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Biasakan berbahasa yang sopan